Ulasan Film "Aach... Aku Jatuh Cinta" Karya Garin Nugroho
Halo sahabat Blogger, dalam kesempatan ini saya akan memberikan sedikit ulasan untuk karya film Aach... Aku Jatuh Cinta karya maestro Garin Nugroho. Ulasan ini saya buat untuk kebutuhan tugas mata kuliah Sejarah Film Indonesia di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Mengapa saya memilih film ini sebagai bahan ulasan saya yaitu karena film ini menjadi salah satu film Indonesia favorit saya. Film ini sangat genit, dari judulnya saja sudah genit begitu juga dengan isinya. Selain itu, film ini bisa dikatakan sebagai film karya Garin yang cukup ringan untuk dicerna dan dinikmati. Berbeda sekali dengan karya-karya beliau sebelumnya yang umumnya mengangkat tema biografi dan juga politik, kali ini beliau berusaha memanjakan penonton juga penggemar karya-karya beliau dengan sajian drama romantis yang dibalut komedi.
Film ini menceritakan tentang kisah cinta ala Romeo dan Juliet, atau lebih sering juga disebut dengan kisah cinta Tom and Jerry oleh para pengulas film ini. Diceritakan percintaan antara Yulia (Pevita Pearce) dengan Rumi (Chicco Jerikho) yang penuh dengan perasaan benci tapi cinta, juga malu-malu tapi mau. Sejak kecil, keduanya sudah saling berteman dan juga terlihat benih-benih asmara di antara mereka berdua, namun salah satunya pasti selalu mengacaukannya. Yulia sebenarnya sudah dilarang oleh orang tuanya untuk bertemu kembali dengan Rumi, karena diketahui bahwa Rumi mempunyai sifat yang sangat jahil. Keduanya saling jatuh cinta dalam kurun waktu 3 dekade yaitu dari tahun 1970-an hingga 1990-an, yang diceritakan melalui sudut pandang Yulia yang menceritakan kisahnya melalui buku harian, surat di sebuah botol dan juga ingatannya yang acak.
Cerita cinta keduanya dilatar belakangi oleh masalah keluarga yang masing-masing mereka alami, sehingga segala sebab akibat mengenai karakter masing-masing terbangun dengan sangat matang. Rumi yang memiliki latar belakang keluarga yaitu ditinggalkan seorang Ibu karena perlakuan kasar sang Ayah, sehingga menyebabkan karakter Rumi sekarang yang memiliki ketakutan untuk memiliki Yulia karena takut akan melakukan hal yang sama seperti apa yang Ayahnya lakukan pada Ibunya. Namun di samping itu, Rumi menjadi memiliki karakter yang jahil, dan nakal sejak kecilnya. Yulia mempunyai kisah yang serupa mengenai keluarganya, Ibunya ditinggal oleh Ayahnya yang merupakan seorang bule yang bisa dikatakan sebagai suami yang gagal dan tidak bertanggung jawab. Sehingga kini Yulia begitu dikekang oleh Ibunya, terlebih jika berhubungan dengan Rumi, karena Ibunya mempunyai latar belakang yang kurang baik dengan laki-laki.
Dalam film ini banyak sekali adegan nyeleneh yang saya rasa akan menjadi adegan yang paling diingat oleh penontonnya. Seperti adegan pembuka film ini, Rumi yang jahil ketika kecil pernah menjahili keluarga Yulia dengan mengoleskan kotoran manusia di pegangan sebuah jembatan, sehingga ketika Yulia dan keluarga melintas dan memegang besi pegangan jembatan itu, tangan mereka akan terkena jebakan itu. Juga ketika adegan Rumi berhasil mendapatkan bra milik Yulia ketika mereka berlatih judo. Seperti di adegan ini, bra ini seperti menjadi planting untuk menggerakkan ceritanya di akhir cerita nanti, sehingga adegan-adegan nyeleneh tersebut tidak sekedar pemanis saja. Ada juga adegan rekonstruksi dari adegan film karya Garin sebelumnya, yaitu Daun di Atas Bantal. Adegan Rumi sedang mengintip selangkangan seorang penjual wedang ronde yang menjual korek api seharga 100 rupiah pada pelanggan untuk melihat selangkangannya. Adegan ini merupakan adegan yang sangat memorial dari film Daun di Atas Bantal. Adegan seperti ini juga kemudian ada pada film pendek karya Wregas Bhanuteja yang berjudul Prenjak sebagai adegan utama, film ini pun berhasil memenangkan penghargaan sebagai film terbaik di salah satu penghargaan Cannes Film Festival. Jika dipikir-pikir mungkin saja Wregas terinspirasi dari seniornya sendiri yaitu Garin.
Tidak akan ada habisnya jika membahas tentang adegan yang sangat memorable dari film ini, karena setiap pengadeganan dirancang dengan sangat matang dengan gaya penceritaan yang sangat menarik. Seperti halnya pada adegan Ibu Yulia yang menjadi penjahit ketika mengukur badan para pelanggannya, adegan ini dibangun dengan nuansa musikal yang menjadi salah satu bagian yang unik dan menarik dari film ini.
Secara keseluruhan, menurut saya film ini sangat utuh. Secara pengadeganan sudah tidak diragukan lagi, pemilihan aktor yang memerankan juga tepat. Meskipun Chicco Jerikho dan Pevita terlihat terlalu matang untuk menjadi seorang siswa SMA, tapi keduanya mampu membawakan perannya masing-masing dengan baik, keduanya mampu membangun karakter yang mencerminkan perilaku remaja di masa itu. Dilihat dari sisi teknis visual, melibatkan tata artistik yang sangat menawan dengan perpaduan warna set, properti dan juga kostum yang tepat, didukung juga dengan tata cahaya dan juga sinematografi yang semakin membuat film ini terasa manis.
Saya tidak bisa berkomentar banyak mengenai film ini, karena seperti yang saya katakan tadi film ini sudah menjadi film yang 'utuh'. Semoga semakin banyak lahir film Indonesia yang tidak mainstream dalam menceritakan kisah-kisah drama remaja SMA. Cukup sekian untuk ulasan film kali ini, terima kasih kepada sahabat Blogger semua, terutama pada Pak Ahmad Zaki selaku dosen pengampu mata kuliah Sejarah Film Indonesia.
Film ini menceritakan tentang kisah cinta ala Romeo dan Juliet, atau lebih sering juga disebut dengan kisah cinta Tom and Jerry oleh para pengulas film ini. Diceritakan percintaan antara Yulia (Pevita Pearce) dengan Rumi (Chicco Jerikho) yang penuh dengan perasaan benci tapi cinta, juga malu-malu tapi mau. Sejak kecil, keduanya sudah saling berteman dan juga terlihat benih-benih asmara di antara mereka berdua, namun salah satunya pasti selalu mengacaukannya. Yulia sebenarnya sudah dilarang oleh orang tuanya untuk bertemu kembali dengan Rumi, karena diketahui bahwa Rumi mempunyai sifat yang sangat jahil. Keduanya saling jatuh cinta dalam kurun waktu 3 dekade yaitu dari tahun 1970-an hingga 1990-an, yang diceritakan melalui sudut pandang Yulia yang menceritakan kisahnya melalui buku harian, surat di sebuah botol dan juga ingatannya yang acak.
Cerita cinta keduanya dilatar belakangi oleh masalah keluarga yang masing-masing mereka alami, sehingga segala sebab akibat mengenai karakter masing-masing terbangun dengan sangat matang. Rumi yang memiliki latar belakang keluarga yaitu ditinggalkan seorang Ibu karena perlakuan kasar sang Ayah, sehingga menyebabkan karakter Rumi sekarang yang memiliki ketakutan untuk memiliki Yulia karena takut akan melakukan hal yang sama seperti apa yang Ayahnya lakukan pada Ibunya. Namun di samping itu, Rumi menjadi memiliki karakter yang jahil, dan nakal sejak kecilnya. Yulia mempunyai kisah yang serupa mengenai keluarganya, Ibunya ditinggal oleh Ayahnya yang merupakan seorang bule yang bisa dikatakan sebagai suami yang gagal dan tidak bertanggung jawab. Sehingga kini Yulia begitu dikekang oleh Ibunya, terlebih jika berhubungan dengan Rumi, karena Ibunya mempunyai latar belakang yang kurang baik dengan laki-laki.
Dalam film ini banyak sekali adegan nyeleneh yang saya rasa akan menjadi adegan yang paling diingat oleh penontonnya. Seperti adegan pembuka film ini, Rumi yang jahil ketika kecil pernah menjahili keluarga Yulia dengan mengoleskan kotoran manusia di pegangan sebuah jembatan, sehingga ketika Yulia dan keluarga melintas dan memegang besi pegangan jembatan itu, tangan mereka akan terkena jebakan itu. Juga ketika adegan Rumi berhasil mendapatkan bra milik Yulia ketika mereka berlatih judo. Seperti di adegan ini, bra ini seperti menjadi planting untuk menggerakkan ceritanya di akhir cerita nanti, sehingga adegan-adegan nyeleneh tersebut tidak sekedar pemanis saja. Ada juga adegan rekonstruksi dari adegan film karya Garin sebelumnya, yaitu Daun di Atas Bantal. Adegan Rumi sedang mengintip selangkangan seorang penjual wedang ronde yang menjual korek api seharga 100 rupiah pada pelanggan untuk melihat selangkangannya. Adegan ini merupakan adegan yang sangat memorial dari film Daun di Atas Bantal. Adegan seperti ini juga kemudian ada pada film pendek karya Wregas Bhanuteja yang berjudul Prenjak sebagai adegan utama, film ini pun berhasil memenangkan penghargaan sebagai film terbaik di salah satu penghargaan Cannes Film Festival. Jika dipikir-pikir mungkin saja Wregas terinspirasi dari seniornya sendiri yaitu Garin.
Tidak akan ada habisnya jika membahas tentang adegan yang sangat memorable dari film ini, karena setiap pengadeganan dirancang dengan sangat matang dengan gaya penceritaan yang sangat menarik. Seperti halnya pada adegan Ibu Yulia yang menjadi penjahit ketika mengukur badan para pelanggannya, adegan ini dibangun dengan nuansa musikal yang menjadi salah satu bagian yang unik dan menarik dari film ini.
Secara keseluruhan, menurut saya film ini sangat utuh. Secara pengadeganan sudah tidak diragukan lagi, pemilihan aktor yang memerankan juga tepat. Meskipun Chicco Jerikho dan Pevita terlihat terlalu matang untuk menjadi seorang siswa SMA, tapi keduanya mampu membawakan perannya masing-masing dengan baik, keduanya mampu membangun karakter yang mencerminkan perilaku remaja di masa itu. Dilihat dari sisi teknis visual, melibatkan tata artistik yang sangat menawan dengan perpaduan warna set, properti dan juga kostum yang tepat, didukung juga dengan tata cahaya dan juga sinematografi yang semakin membuat film ini terasa manis.
Saya tidak bisa berkomentar banyak mengenai film ini, karena seperti yang saya katakan tadi film ini sudah menjadi film yang 'utuh'. Semoga semakin banyak lahir film Indonesia yang tidak mainstream dalam menceritakan kisah-kisah drama remaja SMA. Cukup sekian untuk ulasan film kali ini, terima kasih kepada sahabat Blogger semua, terutama pada Pak Ahmad Zaki selaku dosen pengampu mata kuliah Sejarah Film Indonesia.
Komentar
Posting Komentar