Ulasan Film "Darah dan Doa" Karya Usmar Ismail
Halo sahabat Blogger, kembali lagi dengan saya yang kali ini akan mengulas film Darah dan Doa karya bapak perfilman Indonesia, siapa lagi kalau bukan Usmar Ismail. Kembali lagi, tulisan ini saya buat dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Film Indonesia. Tugas ini diberikan tepat di bulan perfilman nasional, tepatnya di hari ulang tahun Usmar Ismail pada tanggal 20 Maret yang lalu.
Film Darah dan Doa ini dicatat dalam sejarah sebagai film nasional pertama di Indonesia, karena film dengan arahan dari Usmar Ismail ini diproduksi, disutradarai, diperankan dan juga mengambil gambar di Indonesia. Sehingga saat ini negara Indonesia memperingati bulan Maret sebagai bulan film nasional, sebagai rangkaian untuk puncak hari film nasional yang jatuh pada tanggal 30 Maret mendatang. Mengapa tanggal 30 Maret? Menurut catatan sejarah, tepat pada tanggal 30 Maret 1950 film ini pertama kali melakukan pengambilan gambar (shooting).
Film ini menggunakan gaya penceritaan seperti pada sandiwara dan teater, karena menggunakan banyak narasi sebagai penggerak alur cerita, selain aksi dan juga dialog tokoh. Akting para pemainnya juga seperti akting layaknya pada pertunjukan teater. Hal ini sangat berkaitan dengan latar belakang Usmar Ismail yang banyak bergelut di bidang teater dan juga sandiwara. Beliau juga bergelut di bidang sastra, sehingga bisa terasa dalam film ini melalui dialog-dialog para tokohnya yang jika kita tonton di masa sekarang, akan terasa sangat kaku dan juga baku. Menurut saya hal ini sangat wajar karena mungkin pada zaman itu gaya bercerita seperti pada film ini masih sangat relevan.
Film ini bisa dikatakan sebagai masterpiece film Indonesia karena selain merupakan film nasional pertama, film ini juga mempunyai kekuatan dalam tema dan cerita yang diangkatnya. Pesan dari ceritanya tetap relevan meskipun ditonton di masa sekarang. Selain menggunakan banyak pemain dan juga figuran (extras), film inin juga banyak sekali menampilkan landscape pegunungan di pulau Jawa yang begitu indah. Cerita yang baik ini juga didukung dengan teknis pembuatan film yang terbilang sangat baik dan rapi mengingat pada saat itu Usmar Ismail belum mempunyai latar belakang sekolah atau pendidikan film secara formail.
Penggunakan teknik sinematografi yang sangat rapi dapat dilihat dari komposisi tiap shot yang benar-benar terencana dan juga banyak shot yang diambil dengan pergerakan kamera yang begitu dinamis. Meskipun banyak menggunakan gaya sinematografi dengan long take, pengambilan dekopase shot yang akhirnya digunakan di film ini benar-benar hanya untuk kebutuhan penekanan informasi, sehingga tidak semua scene dibuatkan dekopase sebagai shot detail dari adegan, meskipun mungkin saja hal ini dilakukan karena mahalnya bahan baku seluloid sehingga harus benar-benar digunakan seperlunya. Penggunaan long take di banyak adegan film ini juga menjadi tidak membosankan karena digunakan pergerakan kamera sebagai pendukungnya.
Penggunaan unsur lain seperti suara dan musik juga dimanfaatkan dengan baik di film ini, perbedaan yang terdeteksi hanya karena perangkat suara yang digunakan pada masa itu sehingga kualitas suara yang dihasilkan tidak sejernih perekaman suara pada masa sekarang, hal ini sangat khas bisa ditemui di film-film Indonesia lain pada masa lalu.
Pada dasarnya film ini bisa dikatakan sebagai film yang sukses dari segi kreatif maupun teknis. Satu adegan yang menurut saya memorial dalam film ini ialah ketika adegan para tentara menyanyikan lagu Rasa Sayange bersama sama. Film ini bisa menjadi bahan renungan bagi saya sebagai mahasiwa perfilman dan juga untuk orang-orang yang sedang berjuang untuk perfilman Indonesia, supaya bisa menghasilkan lebih banyak karya yang mencerminkan Indonesia. Karena di masa sekarang, segala sesuatunya sudah dimudahkan oleh teknologi yang semakin berkembang, sehingga semua orang bisa membuat film sendiri. Berbeda dengan masa lalu yang tidak semua bisa membuat film, karena segala keterbatasan teknologi dan juga informasi.
Baik sahabat Blogger, saya rasa cukup sekian untuk ulasan film kali ini, terima kasih kepada sahabat Blogger semua, terutama pada Pak Ahmad Zaki selaku dosen pengampu mata kuliah Sejarah Film Indonesia.

Komentar
Posting Komentar